3 Things I Love & Hate about Jakarta

Libur lebaran ini, saya dapat libur lumayan panjang. Dan selama libur kurang lebih 10 hari ini, saya stay terus di Bogor, back and forth antara rumah orangtua sama mertua. Berhubung lusa udah masuk, besok saya harus kembali lagi ke ibukota. Nah, demi menyambut ‘kepulangan’ saya ke Jakarta hihi, ada beberapa hal yang pengin saya tulis, hal-hal yang mengingatkan dan saya rasakan selama tinggal di Jakarta sekitar 11 bulan belakangan ini.

Yang namanya tinggal di Jakarta, ibukota yang katanya nggak pernah tidur, antara senang dan merana memang beda tipis, haha. Kalau teman-teman baca post-post saya sebelumnya, mungkin tahu sekarang saya tinggal di Jakarta… Senin-Jumat. Sabtu-Minggu-nya tetep pulang ke kota kelahiranku tercinta, Bogor. Nah, sekarang saya mau share beberapa hal yang bikin saya betah dan nggak betah tinggal di Jakarta, hal-hal yang bikin saya sebel sekaligus cinta sama si ibukota. Continue reading “3 Things I Love & Hate about Jakarta”

Birthday Dinner at Hause

Alhamdulillah, hari Senin lalu saya menginjakkan kaki di usia yang ke-25. Kata orang nanya umur itu nggak sopan, tapi saya seneng-seneng aja di-recognized sebagai sosok yang berusia 25 tahun haha. Dan Alhamdulillah, ini adalah tahun pertama saya melewati ulang tahun bersama suami. Dan katanya juga, welcome to quarter life crisis, so…, bring it on!

Eniho, bukan itu sih inti dari post ini. Kebetulan waktu ulang tahun kemarin saya sempet dinner bareng suami di tempat yang sebenernya udah lama yang pengin didatengin tapi belum juga ada kesempatan, yaitu Hause. Continue reading “Birthday Dinner at Hause”

Cerita Baru: #RumahPakIsmed

Kali ini saya ingin menyampaikan kabar terbaru bahwa… saat ini saya dan suami (insya Allah) akan membangun rumah pertama kami! Alhamdulillah.

Sebenarnya awal kami akan membangun rumah berawal dari sebuah cerita pahit. Di minggu pertama tahun 2017 ini ayah mertua saya meninggal dunia. Dan entah bagaimana caranya, beberapa minggu setelah ayah pergi, saya ngobrol sama mama mertua dan tiba-tiba tersebutlah rumah lama ayah yang sudah lama ditinggalkan, yang mana adalah rumah masa kecil Abang. Awalnya mama ingin merenovasi rumah itu, tapi setelah dipikir-pikir untuk apa juga karena nggak akan ditinggali. Akhirnya mama berpikir mungkin akan lebih baik kalau rumah itu diwariskan ke Abang untuk kemudian Abang dan saya (dan insya Allah keluarga kami kelak nanti) tinggali.

Continue reading “Cerita Baru: #RumahPakIsmed”

The Wedding #2 – Akad & Resepsi


When was the last time I posted?!

Jadi, ini semua terjadi karena setelah menikah, hidup saya mengalami banyak perubahan. Kerjaan baru, pindah ke apartemen baru (yes, more stories later!). Sampai baru ngeh kalau utang nge-post kisah wedding belum tersampaikan.

So, where were we?

Continue reading “The Wedding #2 – Akad & Resepsi”

The Wedding #1 – Pengajian

Sehari sebelum hari H, tepatnya tanggal 22 Juli 2016, saya melangsungkan acara pengajian di rumah. Sementara Abang udah melangsungkan pengajian sehari sebelumnya, di tanggal 21 Juli 2016.

Sebenarnya saya bingung mau nulis apa soal pengajian. Karena cepet banget, nggak kerasa tau-tau udah beres haha. Dan saya memang nggak pakai acara siram-siraman gitu makanya acaranya kerasa cepet banget. Mulai jam 2 siang, setengah 4 udah beres.

Nah, daripada jadi silent post, mending saya review satu-satu aja yah vendor yang turut berkontribusi dalam acara pengajian ini. Yuk mareee…

Continue reading “The Wedding #1 – Pengajian”

Let’s Talk (A Little Bit) About Marriage

Kurang dari dua minggu lagi, tepatnya sepuluh hari lagi, saya akan melangsungkan pernikahan. Semakin saya sibuk mempersiapkannya, semakin saya merenungkan makna pernikahan itu sendiri.

Meskipun satu kata ‘pernikahan’, tetapi praktik ini banyak jenisnya dengan makna yang berbeda-beda, cara yang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, sampai konsekuensi yang berbeda-beda. Sebut saja forced marriage, early marriage, underage marriage, child marriage, same-sex marriage, contracted marriage, hingga satu lagi, kawin gantung (istilah yang sangat lokal, sampai saya nggak tahu padanan bahasa Inggris yang sesuai).

Mungkin kita bisa me-rule out same-sex marriage yang bagi sebagian orang dianggap sebagai praktik yang ‘tidak bisa diterima’. Namun, di samping itu, keseluruhan jenis pernikahan di atas adalah pernikahan hetero yang conform heteronormativitas. Nyatanya, jenis pernikahan itupun tentu tidak dapat diterima, entah karena menyalahi undang-undang sampai prostitusi terselubung berbalut dasar hukum agama yang abu-abu. Lantas, sebegitu pentingkah sebuah status pernikahan di mata masyarakat, meskipun itu berarti harus ada makna yang direduksi hingga konsekuensi yang tidak sedikit?

Continue reading “Let’s Talk (A Little Bit) About Marriage”